Selasa, 09 April 2013

The Second News

Sekitar satu setengah bulan yang lalu, saya pernah menjanjikan untuk mengabarkan ada dua berita baik yang akan saya bagi. Berhubung berita pertama sudah saya beritahu (mengenai akan rilisnya anak kedua saya yang bernama DIA KEMBALI), sekarang saatnya saya menginformasikan berita baik kedua. 

TRALAAA.... Apa gerangan itu...?

Berita baiknya, masih seputar buku terbaru. :)

Kira-kira sekitar dua bulan ini saya berkutat dengan naskah untuk novel baru. Dan akhirnya sekarang telah rampung proses penulisannya. Nah, untuk novel yang baru ini, naskahnya akan diterbitkan secara mayor, di penerbit gagasmedia. 

Sekitar bulan januari lalu, saya telah setor ide ke pihak penerbit, dan akhirnya ide itu pun disetujui. Begitu mendapatkan konfirmai deal dari editor pembimbing, saya pun mulai menyusun plot cerita. Setelah proses penyusunan plot selesai dan disetujui, saya pun memulai proses menulis sekitar awal februari. Karena pada saat itu, tidak ada konfirmasi mengenai deadline, maka saya pun mengerjakannya dengan santai, dengan target deadline yang saya tentukan sendiri, yaitu tiga bulan. Karena sambil bekerja, jadi saya tidak bisa sesuka hati lagi jika ingin menulis. Dan baru bisa menulis pada malam dan pagi hari.

Pertengahan maret saat proses menulis, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kabar bahwa editor saya ingin memberi deadline penulisan naskah, hingga akhir maret. Tentu saja, saya langsung dibuat kalang kabut, mengingat akhir maret itu menyisakan dua minggu saja. Di tambah naskah yang saya garap, baru selesai beberapa bab. Akhirnya saya pun tancap gas demi memenuhi deadline yang diberikan. 

Finally, naskah itu akhirnya rampung juga, meski sempat molor selama seminggu. Dan sekarang, saya tinggal menuggu konfirmasi dari editor tentang naskah tersebut. Apakah langsung lolos atau justru saya harus melakukan revisi. 
Harapannnya sih, meskipun nanti mengalami direvisi, hanya di beberapa bagian saja, syukur-syukur jika langsung lolos. 

SUN SHINE, judul novel terbaru ini.

Untuk judul, masih tentatif atau bisa berubah. Ketika akan naik cetak, menjadi kebijakan pihak penerbit untuk menyesuaikan nama yang lebih cocok atau mungkin lebih indah lagi dari judul yang saya berikan.
 
Masih sama dengan novel-novel yang sebelumnya, novel terbaru ini juga berlatar kisah remaja dan dramatikanya. Sedikit bocoran mengenai isinya, novel ini terdiri dari dua karakter cewek dan cowok, yaitu Mila dan Riki. 

Seperti apa kisah mereka? 
Nantikan saja kabar selanjutnya yaa..... 

salam 
dil.se



Kamis, 28 Februari 2013

Tentang "Anak Kedua"

Beranda ini telah lama bersarang. Saatnya bersih-bersih. Beberapa waktu hanya sempat meng-update foto-foto travveling yang baru tahun lalu saya lakukan.

Nah, karena kesibukan (yang sok disibuk-sibukin) saya jadi tidak memiliki kesempatan untuk bersih-bersih sekalian menyiarkan informasi-informasi di sini. Dan sekarang berhubung ada waktu (itu juga nyolong-nyolong di tengah waktu bekerja) ada kabar baik sekaligus terupdate yang akan saya bagi buat teman-teman.

Apa itu kabar baiknya?
Ada dua kabar baik yang akan saya sampaikan, tapi untuk sesi ini hanya satu yang akan saya berikan. (hehe... itung-itung bikin rasa penasaran kalian ngegantung) :)

Kabar baiknya adalah..
Naskah yang berabad-abad lalu (baca: tahun lalu) saya janjikan, akhirnya rampung. Dan akan terbit tahun ini. Perkiraan rilis di bulan april. Tapi masih bisa berubah. Karena saat ini saya sedang menunggu sahabat saya (Robin Wijaya) untuk memberikan testimoninya tentang naskah ini. (jadi harap maklum ya. Penulis yang satu itu super sibuk, jadi saya harus menunggu deadlinenya selesai baru deh giliran punya saya di emong)

Novel ini berjudul "Dia Kembali", masih seperti novel sebelumnya, novel ini juga bergenre remaja.  

By the way, berbeda dengan anak pertama yang berhasil di adopsi oleh penerbit di Ibukota sana, anak yang kedua ini, diterbitkan melalui jalur indie publishing. Why? Ada beberapa alasan kenapa saya memutuskan untuk menerbitkan melalui jalur indie, setelah yang saya lakukan untuk memperjuangkannya. Nanti akan saya ceritakan di the next blog begitu naskahnya siap cetak ya... (janji). Intinya, saya percaya, setiap karya mempunyai jalannya masing-masing, sama halnya seperti manusia yang juga memiliki takdir, karya pun demikian, memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Yang terpenting dari semuanya adalah, saya berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik bagi karya-karya saya.
Pada akhirnya, mau seperti apa pun jalur yang ditempuh anak saya ini, saya yakin, di luar sana pasti telah banyak yang menanti.

So, yang jadi harapan saya adalah kalian tetap menanti kedatangannya, suka dan pasti menikmatinya.

Wel, untuk pemanasan, Saya berikan cuplikan sinopsis beserta dengan wajahnya. Ini dia...  


"Mereka mengira ini bohong. Tdak masuk akal. Tapi kehadiranku ada. Di antara kalian. Di tengah-tengah kalian. Sebuah napas yang menjelma dalam kasat. Sebuah jiwa yang menggantung dalam harapan.
Aku bertemu dia.
Lalu kusadari, hanya dia yang tahu. Hanya dia yang merasakanku. Apalagi kebahagiaan yang ingin aku cari?
Aku membutuhkan dia. Untuk jiwaku. Untuk menuntaskan milikku. Menyelamatkan seseorang dari kehancuran.
Dan menyelamatkan diriku.
Karena... Hanya dia yang bisa...   


And then....
Tinggal kalian yang bebas menilainya.


Salam.
dilse

Senin, 26 Desember 2011

Terpilih 'Surat untuk Ibu'

Freinds, ini dia dua surat yang terpilih dalam kuis 'surat untuk ibu'. 
Bagi yang sudah bergabung terimakasih untuk keikutsertaannya. Jangan kapok untuk ikutan lagi ya. 
Congrats untuk surat yang terpilih. 

Meskipun hari ibu sudah berlalu, semoga bacaan ini bisa tetap kalian nikmati. 
Happy reading. :) 

salam 
dil.se


***

Terpilih 1

by Leanita Winandari

Selamat malam, Ibuku sayang. Mungkin surat ini takkan pernah sampai padamu, takkan terbaca meski hanya segaris kalimat. Bukannya tak ada jalan untuk mewujudkannya, hanya saja aku terlalu malu—atau tepatnya gengsi—untuk menyerahkannya padamu, membiarkan kau membacanya.
 Dua puluh tiga tahun lebih lima bulan. Dan selama itu kita berbagi udara yang sama, berpijak di bumi yang sama. Waktu sudah jauh berjalan, bukan? Aku sendiri merasa demikian. Ini terlalu cepat.

Selama ini, kita memang tidak bisa dibilang punya hubungan yang intim. Semua berjalan biasa-biasa saja, seolah ini hanya sebuah keniscayaan yang harus kita terima. Kita terlalu jarang berbagi cerita. Selepas melakukan aktivitas di luar seharian, aku tak pernah bercerita padamu bagaimana hariku. Aku tahu, kau berharap aku duduk di sampingmu dan memulai cerita. Tapi satu-satunya kalimat yang sering meluncur dari bibirku adalah: aku capek. Dan kamu diam, mengerti bahwa apa yang kulakukan di luar hampir menguras seluruh tenaga yang kumiliki. Aku pun pergi ke kamar mandi, kemudian masuk kamar, membaca buku, lalu tidur sekitar pukul sebelas malam. Begitu setiap harinya. Pun di hari libur, kegiatanku hanya itu-itu saja: membersihkan kamar, mencuci baju, membaca buku, menonton DVD, menulis sebentar dan tidur. 
 Hanya sedikit waktu yang kuluangkan bersamamu. Terkadang aku ingin merubah semua, melakukan hal di luar kebiasaan. Ah ya, tapi setiap perubahan membutuhkan pengorbanan. Dan sampai sekarang, aku belum sanggup mengorbankannya. Tapi aku bersyukur, di luar waktu-waktu yang belum kumiliki itu, kita masih bisa pergi berbelanja ke pasar di Minggu pagi dan sesekali menemanimu memasak di dapur sebelum aku berangkat kerja.
Sepertinya, memang ada waktu yang khusus yang bisa kita nikmati sendiri dan bersama.


Ibu, apa kau ingat saat pertama kali kau bercerita tentang sebuah negara yang terletak di bawah permukaan air laut? Saat itu, aku masih berusia enam tahun, hanya dua tahun sebelum aku membuka buku Sejarah Nasional Republik Indonesia. Mereka 'mengeringkan' air laut, membangun bendungan besar dan kanal-kanal untuk mengalirkan air-air laut agar tak meluap dan membanjiri tanah mereka yang baru. Aku diam sambil mendengarmu bercerita, bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana mungkin mereka melakukan semua itu. Tanpa kausadari, saat itu kau menumbuhkan sebuah impian yang bahkan bertahan hingga saat ini. Suatu saat, aku harus menginjakkan kakiku di sana. Melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa bendungan yang terbentang di sepanjang pesisirnya.
Rasanya menyenangkan sekali memiliki satu mimpi yang bertahan sementara mimpi-mimpi yang lain harus atau terpaksa kulepas. Saat beberapa tahun yang lalu aku mengatakannya padamu, kamu hanya menganggapinya dengan dingin. Tapi satu hal yang kuyakini: di sana, di dalam hatimu, ada sebuah doa yang tak pernah kudengar. Ya, Ibu, aku tahu. Kau mengamini setiap cita-citaku, mimpi-mimpi absurd-ku meski semua itu terlihat tidak mungkin. Aku tahu, selama aku percaya pada mimpi-mimpiku, selama itu juga kau akan terus mengamininya.

 Ibu, mungkin kau masih bertanya-tanya tentang kejadian Juni tahun lalu. Kau hanya tahu setengahnya, itu pun bukan diriku sendiri yang bercerita. Kau tahu tanpa sengaja tiga bulan setelahnya. Dan saat kau mencoba mengorek keterangan dariku, aku justru bungkam. Bukannya aku tak mau berbagi denganmu. Hanya saja, aku tidak mau membicarakannya—sampai sekarang pun, tidak. Aku merasa lebih nyaman berbagi dengan sebuah notebook, atau sedikit berbagi di blog pribadi. Maafkan aku untuk hal ini. Bukannya aku tak percaya padamu, tapi lebih kepada rasa tidak inginku untuk berbagi hal-tidak-menyenangkan padamu. Kurasa, kau tahu dari mana aku mendapatkan sifat ini. Darimu, tentu saja.


Ah, sudahlah. Kurasa ini bukan hal yang patut diperbincangkan di sini. Toh, seperti kataku tadi, aku tak mau membicarakannya lagi. Soal mengenang, itu persoalan lain. Bukankah kita tidak bisa memilih kepingan memori mana yang tiba-tiba menyeruak dan memaksa untuk diingat?
Ibu, aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan bahwa aku sungguh bersyukur memiliki ibu sepertimu. Kau tak pernah mengeluh ketika aku tiba-tiba diserang rasa malas, dan kau terpaksa mengambil alih pekerjaan rumah yang semestinya menjadi kewajibanku pada setiap hari libur. Kau juga tak pernah mengomel jika pada satu dini hari yang dingin aku membuatmu terjaga dari lelap karena teriakan spontanku ketika menonton pertandingan sepakbola. Aku bersyukur karena kau selalu ada di sampingku di saat-saat sulit, sementara yang lain justru berjalan menjauh.


Ibu, aku tahu, ini takkan cukup mewakili seluruh kata yang berjejalan di otakku. Tapi aku cuma ingin kau tahu, Ibu. Meski mungkin takkan bisa sebesar kasih sayangmu padaku, aku begitu menyayangimu. Dan sampai kapan pun, aku terus berusaha membuatmu tersenyum.

Selamat malam... :)


 P.S: Kau tahu? Aku selalu memimpikan satu hari bersamamu di Lisse. Keukenhof, Ibu. Tempat terindah di dunia pada saat musim semi. Kita bisa melihat hamparan tulip dan daffodil dengan bermacam-macam jenis dan warna. Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku ingin melewatkannya bersamamu. Aku pecinta musim gugur, Ibu. Tapi setiap meliat bunga merekah, aku selalu bisa mengingat senyummu. Dan kau pasti ingat, kau lah yang mengajariku berkebun dan menyayangi bebungaan di setiap sudut halaman rumah kita saat aku kecil. 

***


Terpilih 2

by Sri Sulistyowati

Dear, Mom


Hai ibu, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Coba aku hitung mundur, sekarang aku sudah lulus kuliah dan sedang berjuang mencari pekerjaan yang susahnya minta ampun. Ketika kau pergi aku masih duduk di kelas tiga SMA dan sekarang aku tepat berusia 23 tahun! hmmm, hampir lima tahun lah, rasa kangen sudah tidak dapat ditampung lagi, sudah meleber kemana-mana.


Banyak sekali yang kau lewatkan selama kau pergi, salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kau melewatkan masa pertumbuhan anak-anakmu. Kau tidak melihat kakak lulus kuliah, bekerja yang gajinya bikin iri. Kau tidak melihat aku lulus SMA dimana sepanjang aku sekolah, masa itulah aku benar-benar serius sekolah, belajar mati-matian, les di beberapa tempat sekaligus, selalu pulang sore, tidak ada waktu bermain, itu semua demi membuatmu bangga, aku tidak ingin mengecewakanmu. Kau juga tidak melihat aku kuliah sampai lulus. Dan yang terpenting, kau melewatkan pertumbuhan anak kesayanganmu, adik lelakiku yang selalu kau cari-cari ketika hampir magrib dia tidak pulang-pulang. Dia tetap bandel, masih suka maen sampai sore bahkan tidak jarang sampai malam, dia hampir mau lulus STM. Aku jadi kangen dengan kecerewetanmu dalam menyuruh dia di rumah. Dengan “jam dolannya” yang lumayan padat, aku bersyukur dia tidak lepas kendali, ibu.
 

Aku sadar aku bukan anak yang baik, suka membantah perkataanmu, selalu menunda-nunda bila kau suruh mengerjakan sesuatu, aku bukan masuk anak teladan, anak impian setiap orang tua. Aku benci ketika kau membanding-bandingan aku dengan anak tetangga kita yang kau sebut sebagai panutan. Aku tidak suka bila disama-samakan dengan orang lain, semakin kau menuntut, aku akan semakin melawan. Yah, mungkin itu bagian dari proses pendewasaan karena waktu itu aku masih remaja, masih mencari jati diri, atau lebih tepatnya aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tahu kau ingin aku menjadi anak yang rajin, pandai, baik, anak emas di mata keluarga atau pun orang lain. Percayalah, aku tidak perlu mendapatkan semua predikat itu dari mencontoh orang lain, aku mendapatkan semua itu justru darimu, ibu.

 

Aku ingat, ketika aku masih kecil dan sedang kau boncengkan dengan sepeda mini, kakiku terkena ruji sepeda. Kau langsung meminta obat merah di rumah terdekat lalu mengikat kakiku di sedel agar tidak terkena lagi. Aku tahu, kau akan selalu melindungiku.


Aku ingat, sejak kecil, dari SD kau selalu menyuruh kami, anak-anakmu yang tidak tahu diri ini mengerjakan pekerjaan pribadi seperti menyisir rambut, mencuci, menyetrika baju sendiri, dll. Aku tahu, dari itu kau mnegajari kami untuk mandiri.


Aku ingat, sejak kecil kau selalu memberi kami uang saku yang sangat pas-pasan, aku tidak bisa membedakan apakah kau ibu yang pelit atau terlalu berhemat. Katamu kami harus belajar hidup susah biar kalau suatu waktu kami jatuh miskin, kami tidak kaget. Uang saku teman-temanku hampir 2-3 kali lipat dari uang yang kau berikan untuk jajan, dan kau menerapkan peraturan ini sampai SMA. Aku tahu, dari kebiasaan itulah kau mengajariku untuk bisa menyisihkan uang, berhemat dan belajar menabung. Setelah lulus SD aku sudah mempunyai tabungan di Bank sendiri.


Aku ingat, kau selalu memaksaku untuk membantumu memasak di dapur, dan aku selalu mengeluh. Kau selalu bilang seorang wanita itu wajib bisa memasak, selain untuk kehidupan berkeluarga nanti, aku tidak perlu bergantung pada warung makan. Kau juga tidak menyukai adanya pembantu di rumah. Kau seperti berkata, ” Kalau kita bisa mengerjakan sendiri pekerjaan yang sepele, kenapa harus merepotkan orang lain?” Oh ya, jujur saja ya ibu, kadang aku tidak terlalu suka masakanmu, kau tidak sehebat Farah Quinn (padahal aku juga belum nyoba masakannya) dan itu menurun padaku sampe sekarang yang kurang ahli dalam masalah dapur. Tapi, sampe sekarang kering jengkolmu yang super pedas itu belum ada yang menandingi!


Aku ingat, sewaktu aku lulus SD, aku memutuskan untuk mengikuti kepercayaanmu. Kejadian itu membuat ayah sangat murka, yah dia memang kolot sekali waktu itu, semua anaknya harus mengikuti kepercayaannya. Mungkin aku lebih dekat denganmu sehingga aku selalu mencontoh apa yang kau lakukan. Seperti seorang laiki-laki yang terperangkap pada tubuh wanita, keyakinan itu sudah melekat pada diri sendiri, kita tidak bisa mengingkarinya, maka jadilah aku seorang mualaf. Lalu ayah mengancam tidak akan memperdulikanku lagi dan tidak akan membiayai hidupku lagi. Sikap kerasnya pun menurun padaku, aku tetap memilih jalan sepertimu, ibu. Dan aku sangat ingat apa yang kau katakan padaku, “Masih ada aku yang bisa membiayaimu.” Hampir tiga tahun hubunganku dengan ayah putus, masih dalam satu rumah, syukur waktu aku SMA dia bisa menerima perbedaan yang aku pilih. Aku tahu, kau akan selalu ada di sampingku, mendukungku, kau adalah benteng yang akan selalu melindungiku.


Aku ingat, sejak kecil aku mempunyai masalah dengan kendaraan umum, mabok kendaraan parah. Tapi kau mematahkannya dengan menyuruhku untuk membiasakannya. Mulai SMP aku sekolah di mana letaknya harus ditempuh dengan kendaraan umum, kau mengantarkanku ke tempat pemberhentian bis, menunjukkan bis yang benar, dan menyuruhku membawa plastik kalau sewaktu-waktu penyakitku itu kambuh. Awalnya agak parno juga karena mabok kendaraan itu benar-benar nggak enak tapi karena setiap hari aku mulai ritual naik kendaraan umum, mau nggak mau harus menjalaninya dan ajaibnya penyakitku itu tidak pernah kambuh selama sekolah (yah, kadang kambuh sih kalau kendaraanya bau dan ada orang mabuk juga disampingku). Aku tahu, kau mengajariku untuk mengatasi masalah apa pun, seberat apa pun itu.


Aku ingat, waktu pelajaran agama di kelas satu SMA, ada ujian membaca Al-Qur’an, tentu saja aku tidak bisa karena aku tidak pernah mengikuti TPA. Sepulangnya dari sekolah aku menagis dan mengadu padamu. Kau langsung meminta bantuan tetangga kita yang seorang guru agama untuk mengajariku mengaji. Setelah itu, setiap habis magrib aku belajar mengaji gratis padanya. Aku tahu, kau akan selalu ada untuk menolongku, kau akan melakukan apa pun untuk anak-anakmu.


Sejak kau pergi, keluarga ini keteteran. Tidak ada yang memasak untuk kami, tidak ada suara ceewetmu, tidak ada perintah-perintah yang selalu aku abaikan, tidak ada kulucuanmu, kekonyolanmu kalau menonton tivi, tidak ada dirimu disampingku.

Besar sekali efek yang kau tinggalkan ketika kau pergi. Ada kejadian yang kami alami dan terlihat sekali kalau kami sangat butuh kehadiranmu. Waktu itu kakak terserang Demam Berdarah, sangat sangat perlu diawasi keadaanya. Aku sudah memasuki bangku kuliah, adik tentu tidak mengerti apa-apa, hanya ada ayah yang tentu juga sibuk akan pekerjaanya. Ayah terlihat bingung dan kerepotan mengurus semuanya. Untungnya aku sedang praktek di rumah sakit yang sama sehingga bisa membantu mengurus kakak. Saking capeknya mengurus kakak yang sering minta di antar ke kamar mandi yang tak kenal waktu (dia disuruh minum yang banyak agar tidak dehidrasi dan dia tidak mau di pasang selang pipis), tentu itu menjadi tugasku karna kami sama-sama perempuan. Aku capek lahir batin, habis praktek langsung mengurus kakak, hampir tidak ada waktu istirahat, aku marah padanya, bilang kenapa harus sakit segala dan sangat itu sangat merepotkan. Dia langsung menagis, aku melihat ayah memalingkan muka dan diam saja. Tapi aku tahu, dia menahan tangis, dia tidak ingin terlihat lemah di mata anak-anaknya, dia harus kuat agar anak-anaknya juga kuat. Dan alhamdulillah Tuhan memang Maha Melihat, ada sepupu yang membantu kami.


Selain itu, efek yang kau tinggalkan pada diriku adalah aku gampang menagis, cengeng. Tiap lihat keharmonisan keluarga, kasih sayang ibu ke anaknya, acara-cara di tivi yang menjual air mata, sangat menyentil perasaanku. Bahkan dulu aku sempat berandai-andai kalau bisa melihat hantu, aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku selalu heran kenapa ada panti jompo, kalau untuk yang tidak mempunyai keluarga lagi aku sangat setuju tempat itu ada, lah kalau anak-anaknya masih utuh aku benar-benar mengutuknya! Apa susahnya sih mengurus mereka, toh mereka tidak merepotkan seperti kita masih bayi. Mereka tidak butuh apa-apa selain dekat dengan anak-anaknya. Jadi, sungguh disayangkan kalau mereka malah ingin jauh-jauh dari orang tua karena sudah mempunyai keluarga sendiri. Mungkin mereka harus mengalami, merasakan sendiri seperti aku, menyadari betapa sakitnya kehilangan orang tua. Sebelum terlambat, sering-seringlah menengok ibu, menelepon dia, menanyakan kabarnya setiap hari, peluk dia dan cium dia.


Walaupun sangat menyakitkan, ibu, kehilanganmu membuat aku menjadi lebih dewasa. Belajar menerima sesuatu yang buruk, mengurus rumah, lebih menyayangi ayah, kakak dan adik. Ayah sangat setia padamu, tapi aku juga tidak tahan melihat dia sendiri, seorang duda beda dengan janda, mereka tidak bisa mengurus diri sendiri, itu juga terlihat di diri ayah. Selain itu, aku juga jarang di rumah. Aku setuju ketika ayah ingin menikah lagi, sudah hampir setahun ini aku mempunyai ibu tiri dan syukur dia tidak sejahat ibu tiri-nya Cinderella atau yang terlihat di sinetron-sinetron. Dia tidak akan bisa menggantikanmu, tidak akan pernah. Tapi dia akan selalu ada ketika ayah membutuhkannya baik sehat atau sakit.


Apa lagi yang aku ingat lagi tentang dirimu? Senyum, marah, bawel, lucu, malu-maluin, menggurui, otoriter, rambutmu yang mulai memutih, kerutanmu, semua tentang dirimu akan selalu aku ingat, ibu.

Aku bisa mendapatkan ilmu dari pelajaran di sekolah, tapi aku mendapatkan pelajaran hidup darimu, ibu, ibu, ibu.


Dari anakmu yang sudah tumbuh dewasa :)

*** 
 


Minggu, 25 Desember 2011

Dear, you

Alow freinds...

Menjawab beberapa pertanyaan yang sering mampir di twitter dan facebook, sekedar untuk memuaskan rasa penasaran pembaca Heaven on Earth, sekarang saya akan menginformasikan, saat ini saya sedang 'sok' sibuk mengerjakan dua draft novel, dengan judul yang berbeda.

Saya punya beberapa alasan kenapa ngoyo untuk menyelesaikan dua draft ini. Pertama, karena saya sedang di landa euforia banjir ide (wah belagu), sehingga membuat unsur-unsur keserakahan menyerang jiwa dan raga. Haha.

Kedua, ada ketakutan dalam diri saya untuk beberapa bulan ke depan, saya tidak akan sempat menyentuh draft-draft itu dikarenakan sibuk mengurus draft yang lain alias tugas akhir. Just info, kalau lancar tahun depan saya sudah akan mengerjakan skripsi (ck, promosi apa curhat?). Sudah pasti, tugas negara yang satu ini akan lebih saya utamakan.

Dan yang ketiga, saya merasa tidak rela untuk mengabaikan 'mereka' tokoh-tokoh yang ada di dalam sana untuk menunggu saya menyelesaikan tugas negara. Tentunya saya nggak mau dong, mereka saban malam akan menggentayangi saya gara-gara nasibnya yang di gantung. (oke, yang ini memang berlebihan)

Saya rasa ketiga alasan itu cukup untuk membuat saya kekeuh untuk tetap melanjutkan misi maruk ini. :)

Draft pertama sudah berjalan 95%. Sementara untuk draft kedua, saya masih harus berjuang keras, karena draft ini masih dalam proses referensi dan pematangan plot.



Dua draft yang saya buat ini, dari segi tema sangat bertolak belakang. Tapi masih tetap dalam satu genre yang sama. Masuk dalam kategori genre remaja.
Akan ada unsur-unsur berbeda di dalam dua draft ini. Bukan bermaksud untuk membuat penasaran, karena saya tidak akan menjabarkan isi cerita kedua draft ini secara keseluruhan. :D Tapi saya akan sedikit memberikan gambaran tema kedua draft ini.

Dalam draft pertama, saya mengangkat tema tentang dua sisi dunia yang berbeda, antara nyata dan dunia gaib. Dimana kedua tokohnya akan saling berbenturan dengan terhubung satu konflik. Cukup! :)


Next, draft, bertema science fiction dengan mencampurkan bumbu-bumbu action di dalamnya. Lebih tepatnya cerita ini menggambarkan tentang sebuah petualangan. Cukup!
Untuk tema yang satu ini, jujur ini adalah genre baru yang saya coba, diluar kisah romance remaja. 

Kedua draft ini akan saya kejar untuk selesai tepat pada waktunya, sebelum tugas negara di mulai. Jadi mohon doanya ya. :D

Lalu, pertanyaannya, kapan akan terbit?
Let's see. Kita tunggu saja, karena saya pasti akan selalu mengusahakannya.

So, gimana? Sudah puas? Atau malah tambah penasaran?
*_^

Salam
dil.se

  









Senin, 05 Desember 2011

Mother's Day

Hei, freinds...

Bulan november, bulannya Ibu. 
Seperti yang kita tahu, tanggal 22 Desember dirayakan sebagai Mother's Day. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk merayakannya. Memberikan hadiah, membuat kartu ucapan berisi kata-kata inspratif, memberikan pelukan dan ciuman mesra atau lain sebagainya.

Saya jadi teringat dengan pengalaman beberapa tahun yang lalu saat saya masih siswi berseragam putih-biru. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan apa yang akan saya berikan untuk Ibu saya pada Hari Ibu nanti. Di hari itu saya khusus membelikan setangkai bunga aromaterapi beserta potnya untuk beliau.  Lalu saya meletakkan bunga itu di atas meja makan, sambil mengatakan pada Ibu saya, "Mam, ini bunganya wangi lho." Ibu saya yang waktu itu lagi masak, cuma manggut-manggut. "Ngapain beli gituan?" kemudian Ibu saya bertanya dengan wajah aneh sambil menatap bunga aromaterapi itu, mungkin di dalam hati ibu saya membatin, "tumben bener anakku jadi romantis beli bunga-bunga segala".  Sambil cengengesan saya menjawab. "Nggap pa-pa, iseng doang."
Kalau mengingat itu, saya suka kegelian sendiri. Pada dasarnya saya bukan orang sintimental yang suka mengumbar kata-kata manis secara live untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan, saya lebih mengapresiasikannya dalam bentuk perbuatan tanpa perlu merasa orang yang bersangkutan mengetahui apa yang ingin saya sampaikan. Gengsi, maybe.

Semakin usia bertambah, saya mulai berpikir dengan cara yang berbeda. Bagaimana Ibu saya bisa tahu apa yang saya rasakan jika saya tidak mulai mengatakannya. Mungkin sederhana, tapi saya tidak akan pernah tahu kalau ungkapan saya mungkin saja bisa bermakna lebih besar dari yang saya pikirkan, jika saya mulai mengatakannya pada Ibu saya.

Meskipun itu hanya satu kalimat sederhana seperti; "I love you, Mama."
Just simple, right? 
 Bukan berisi kalimat-kalimat khusus dan spesial, yang kata-katanya menghanyutkan. Tapi saya yakin, bagi seseorang yang sudah memberikan saya kehidupan  di dalam tubuhnya selama 9 bulan lebih, lalu berjuang memberikan kehidupan sesungguhnya ke dunia, hal itu menjadi sesuatu yang maknanya pasti begitu luar biasa.

Memang, tidak perlu menunggu hari Ibu tiba untuk mengungkapkan bagaimana rasa cinta kita pada mereka. Tapi terkadang seseorang membutuhkan satu momen untuk mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, dimana momen itu bisa membuat apa yang tadinya sulit terucapkan, bisa jadi lebih mudah dikeluarkan.

Untuk sebagian orang ada yang mungkin malu atau gengsi jika harus mengatakannya dalam bentuk lisan. Never mind,  mulai lah dari hal yang sederhana, menuangkannya dalam bentuk tulisan, dengan strategi "Surat untuk Ibu"

 So, jadikanlah momen Hari Ibu ini  menjadi momen terbaik kalian untuk menyampaikan apa yang kalian rasakan pada sosok "Ibu".

And then, mulailah menulis surat. :D

Nah, setelah menulis surat terus dapet hadiah, seru banget pasti ya. Mau?


So, simak persyaratannya di bawah ini ya:
1. Tema: Surat untuk Ibu
2. Surat harus asli buatan sendiri :))
3. Min 1 halaman maximal tidak terbatas (asal jangan sampe bikin 1 novel ya)
4. Surat di kirim via email: pembunuhberantai@ymail.com dengan subject Surat untuk Ibu. Kirim dalam bentuk document ya, jangan ditulis di badan email. (biar enak bacanya :D) Atau bisa juga via facebook dengan menulis di catatan kalian sendiri lalu tag ke fb Kakajol Hy Khan dengan tittle "Quiz on Desember. Surat untuk Ibu"
5. Sertakan nama, alamat dan contact person di bawah surat kalian ya.
6.Tulisan di tunggu sampai dengan hari Kamis, 22 Desember 2011 jam 23.59 teng
7. Pengumuman pemenang tanggal 25 Desember 2011 jam 12 teng. Pemberitahuannya akan langsung di info melalui email masing-masing pemenang.

Selain 2 novel Heaven on Earth ada 1 buah notebook mini hoe/ 1 buah komik mini, masing-masing untuk 2 pemenang yang terpilih.

:)
Happy writing


Nb: setelah menulis surat, jangan lupa selipin suratnya di bawah bantal Ibu ya. :D

salam.
dil.se











Kamis, 25 Agustus 2011

Be Strong "Selalu ada kekuatan di balik kelemahan"

Ketika tanpa sengaja mengutak-atik komputer yang sedang digunakan  seorang teman saya, saya menemukan salah satu judul yang membuat saya langsung tertarik, dan tanpa pikir panjang lagi langsung menclik-nya. Judul tersebut adalah "anak berusia 6 tahun yang hidup seorang diri"

Saat saya membaca rubrik tersebut, hal pertama yang terbesit dalam benak saya adalah "ini serius?" Kemudian saya langsung search dengan kata sandi "Ah Long" dan saya langsung menemukan sebuah fakta yang membuat saya terkejut, lebih tepatnya mungkin saya sama sekali tidak menyangka.




Ah Long adalah bocah laki-laki berasal dari propinsi Guangxi, Cina, berusia 6 tahun--yang hidup sendirian. Kedua orangtuanya meninggal, karena penyakit HIV AIDS. Dan Ah Long, menderita HIV bawaan sejak lahir.
Karena itulah tidak ada seorang pun yang ingin berhubungan dengannya. Dan bocah itu hidup seorang diri di rumah bekas kediaman almarhum/mah orangtuanya. Ia punya seorang nenek, berusia 84 tahun, tapi neneknya pun tidak ingin tinggal bersama dengan Ah Long, hanya datang untuk sekedar berkunjung saja.

Dalam hidupnya Ah Long hanya ditemani oleh seekor Anjing. Anjing itulah sahabat setianya selama ini.
Karena penyakitnya itu, semua orang menjauhinya, bahkan Ah Long dilarang bersekolah, disebabkan karena para orangtua murid tidak ingin anak-anak mereka sampai bermain atau berkomunikasi dengan Ah Long. 







Kesehariannya, Ah Long, belajar, bermain tanpa ditemani seorang pun, kecuali Anjingnya. Bahkan bocah ini pun memasak untuk dirinya sendiri, menanam sayuran dan berternak ayam. Ah Long juga mencari kayu bakar untuknya memasak. Semua pekerjaan itu, dilakukannya tanpa bantuan orang lain, seperti yang terjadi pada anak seusianya pada umumnya.


Apa yang ada dalam benak kalian ketika membaca sekelumit kehidupan Ah Long?
Bagaimana kalian melihatnya?

Ah Long, sama dengan anak umur 6 tahun yang lainnya, yang seharusnya bisa menikmati masa kecil mereka dengan canda dan tawa. Tapi karena sebuah penyakit, semua orang mengisolasinya. Ah Long pun sebenarnya pasti tidak mengerti apa itu HIV? Apa yang menyebabkan orang-orang menghindarinya?
Tapi coba lihatlah, bocah kecil itu mampu bertahan hidup, di tengah kekejaman yang mungkin tidak di mengertinya.
Dia pun tentunya tidak pernah ingin dirinya terlahir sebagai seorang HIV.

Tapi terlepas dari ironi yang terjadi.
Bagaimana Ah Long bertahan dalam kesendiriannya, menyentil hati saya terhadap sesuatu. Memberikan secercah pelajaran yang cukup berharga untuk diambil hikmahnya. Bahwa apapun, mau seperti apa pun dunia memandang diri kita. Dan sebera besar rintangan yang dihadapi, jangan pernah menyerah pada keadaan dan tetap terus bertahan. Karena justru itulah yang akan membuat kita menjadi semakin kuat untuk menghadapi apa yang ada di dpan nanti.

Sekarang, Ah Long sudah tidak sendirian lagi. Seorang wartawan yang mengangkat profilnya menggerak hati suatu yayasan untuk mengajak Ah Long tinggal di sebuah rumah amal. Sekarang, Ah Long sudah bisa berbagi dengan teman-temannya.

To Ah Long: Tetep selalu semangat dan semoga banyak orang terinspirasi.

Di luar sana, mungkin masih banyak Ah Long Ah Long yang lain. Sekarang kembali pada diri kita sendiri. Ada kah tempat untuk mereka dalam hidupmu?





salam
dil.se




Senin, 11 Juli 2011

Pemenang Kuis Miracle

Hei, ini dia satu yang beruntung dapetin novel Heaven on Earth...


FB: Elmi Rahma
Selamat buat pemenangnya. 
(ditunggu alamat lengkap dan nomer telpon kamu ya)
 

Buat yang belum kebagian, next time bisa mencoba lagi. :D
Thanks banget buat kalian semua untuk pertisipasinya di kuis miracle ya. 

Bingung menentukan siapa pemenangnya, karena jawabannya pada keren-keren dan menarik. Kembali lagi, it's the game. Dipilih berdasarkan kreatifutas diksi dan uniknya. 

Oke, jangan kapok untuk the next quiz ya.. 
See a
salam hangat


dilse. 
kakahy